Langsung ke konten utama

Aku Ingin Menyerah...

 aku ingin menyerah...

-----

tidak banyak hal-hal yang kau dengar keluar dari mulutku adalah sebuah kejujuran yang bisa kau telan mentah-mentah. banyaknya memang adalah sebuah kepalsuan yang kubuat-buat untuk menutupi betapa sejatinya aku hanya berpura-pura untuk terlihat kuat.

ya, aku tidak sekuat yang orang lain lihat dari diriku. nyatanya aku serapuh itu. aku bahkan tak jarang menangis di beberapa kesempatan yang seharusnya aku bisa berpenampilan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

ini semua karena luka kehilangan dan kekecewaan mendalam yang kurasakan. dua hal yang membuatku beranggapan bahwa kini aku hanya punya aku sendiri untuk menghadapi kerasnya dunia.

tak jarang setiap malam aku menangis mempertanyakan hal yang sama berulang: "kenapa hidupku menjadi semenyedihkan ini?"

aku harus menahan segala perasaan yang tidak bisa kudeskripsikan rasanya.

tak jarang terlintas pikiran buruk untukku memotong di tengah jalan dan mengakhiri segalanya. sebab betapa takutnya aku menghadapi dunia ini hanya dengan bertameng diri sendiri.

aku tidak benar-benar punya tempat atau siapapun yang bahkan bisa kujadikan tempat untuk bersandar. tidak ada seseorang yang bisa dengan benar-benar kujadikan telinga bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. aku tidak punya seseorang yang bisa kepadanya kusebut kata 'pulang'. aku tidak punya tempat yang benar-benar bisa kusebut dengan kata 'rumah'.

mirisnya bagiku, riuh jalanan selayaknya teman; jalanan yang sunyi adalah pemutar musik terbaik, dan; gelapnya malam seperti selimut dan kecupan 'selamat malam' ternyaman sebelum akhirnya terlelap dan hidup di alam mimpi.

mungkin aku sering kali dijadikan tempat untuk bercerita. tentang bahagia, tentang hal sedih, amarah, juga rasa kecewa bagi sebagian besar orang-orang yang kukenal. tidak, aku tidak pernah keberatan untuk melakukan itu. nyatanya, mendengar cerita mereka dan dengan mereka nyaman bercerita padaku, justru itu bisa jadi 'penghargaan' manis yang bisa kuabadikan dalam memoriku. hanya saja, terkadang, aku juga ingin didengarkan— aku ingin menumpahkan segala keluh kesahku yang kubelenggu dalam kepalaku.

tapi aku takut. takut kalau aku akan memberikan energi negatif dan membuat aku justru akan kehilangan mereka sebagai teman. maka dengan terpaksa, semua kembali ku simpan sendirian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MA STORY : BRENGSEL - SECUIL SEJARAH PENGINGGALAN KOLONIAL BELANDA DI KOTA SAMPIT

assalamuallaikum warrahmatullahi wabarakaatuuh... selamat pagi, readers sekalian! jumpa lagi di halaman blog ini dengan posting -an baru. setelah posting -an sebelumnya aku nge- review salahsatu film yang baru-baru aja aku tonton, Believer , sekarang aku mau cerita sedikit, nih, tentang salah satu peninggalan sejarah dari zaman kolonial Belanda di kota Sampit. Brengsel. memasuki semester dengan kelas desain berada pada puncaknya, menuntunku untuk lebih serius mendalami isu dari lingkungan yang akan kudesain kedepannya. tidak perlu lama mencari, aku tiba-tiba teringat dengan eks Brengsel yang pernah kudatangi saat matakuliah Sejarah dan Teori Arsitekur. hingga akhirnya, aku memutuskan pulang lagi ke rumah untuk mendapatkan informasi-informasi lebih lanjut mengenai tapak yang kupilih. sejujurnya, aku tidak akan pernah tau kalau ada sisa peninggalan berupa bangunan dari zaman kolonial Belanda di kota Sampit, kalo aja aku tidak masuk kuliah arsitektur di UB. dan, aku yak...

I FAILED MYSELF!

posting- an pertama di tahun 2024 berisikan tentang aku telah gagal atas semua ambisi, resolusi, yang sudah ingin ku wujudkan dari tahun lalu. ternyata berjanji pada diri sendiri itu sangat sulit- entah kepribadianku yang sangat mudah terdistraksi, jadi ketika sudah serius dalam sebuah aktivitas, maka sekali berada dalam gangguan, aku akan kehilangan konsentrasi dan tujuanku. ternyata aku sudah tidak bisa multi-tasking lagi . dari ambisi menyelesaikan sebuah karya tulis panjang, sampai dengan ambisi untuk menurunkan berat badan. ah, yang satu terakhir ini memang sulit . hanya saja, akhir-akhir ini aku mulai tersadarkan sesuatu; bahwa aku cukup 'hilang arah'. dari tujuan hidup, keinginan yang mendalam, keseriusan dalam menjalani hari. tertekan? tidak juga. tidak tertekan? tidak mungkin. ada perasaan yang menjanggal akhir-akhir ini. terkadang seperti rasanya ada percakapan di dalam kepala saat sedang mengendarai mobil: "bagaimana kalau aku tiba-tiba membantingkan stir ini ...

Writing Challenge: Inner Child Healing

sesaat memasuki ruanganku pagi ini di kantor, lagu Linkin Park sudah menggema dari salah satu komputer di ruangan kerjaku. di hadapan monitor itu ada rekan kerjaku yang sudah memutarnya sedari pertama komputer itu menyala. nostalgia masa-masa aku di warnet pas sekolah , katanya.   akhir-akhir ini di kantor sedang terjebak nostalgia. bersama beberapa rekan kerja yang usianya tidak begitu jauh dariku, kami saling melemparkan cerita kami masing-masing di masa lalu. beberapa di antaranya aku merasa masih nyambung , beberapa yang lain aku merasa kayaknya dulu aku ga begitu, dah . percakapan seru itu pada akhirnya membawaku ke kenangan dan memori masa kecil-ku. masa kecilku sebenarnya sangat biasa saja menurutku, tidak begitu banyak yang istimewa. aku menjalani hidup sebagaimana anak usiaku seharusnya. paling-paling ditambah tekanan dari orang tua doang.   maka dari itu, aku akan mulai menulis tentang apa saja yang kuingat saat ku kecil, bermodalkan journal prompt yang kudapatkan d...